Pengaruh Karma dalam Kehidupan Agama Buddha

Apakah kamu tahu apa yang mempengaruhi kondisi kehidupan seseorang? Ya, benar. Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya adalah karma. Sebelum kita membahas apa saja pengaruh karma bagi kehidupan dan agar kita tidak salah memahami karma, kita bahas terlebih dahulu pengertian tentang Karma. Buddha bersabda dalam Anguttara Nikaya III : 415 “O, Bhikkhu! Kehendak berbuat (cetena) itulah yang dinamakan Karma.” Jadi karma artinya niat. Secara umum karma diartikan sebagai perbuatan, yaitu perbuatan yang didasari niat. Setiap perbuatan terikat oleh hukum sebab akibat. Artinya setiap perbuatan baik akibatnya baik, dan perbuatan buruk akibatnya buruk. Bagaimanakah jika ada orang yang berbuat baik tetapi didasari niat buruk? Jika ada perbuatan yang demikian maka meskipun perbuatan tersebut terlihat baik, tetapi niatnya buruk, maka tidak dapat disebut sebagai perbuatan baik. Jadi, perbuatan dapat disebut sebagai perbuatan baik jika dilakukan dengan cara-cara yang baik dan didasari oleh niat yang baik pula.

Pengaruh Karma dalam Kehidupan Agama Buddha

Perbuatan baik melalui ucapan juga disebabkan oleh niat yang baik. Ucapan yang baik adalah ucapan yang benar, bermanfaat, tepat waktu, dan menimbulkan kedamaian. Contoh, ucapan yang baik seperti memberi nasihat, berucap jujur, sopan, lemah lembut, rajin membaca paritta. Ucapan yang baik akan berakibat baik pula. Misalnya karena memberi nasihat yang benar maka dihormati; karena berucap jujur maka jadi orang yang dipercaya; karena rajin baca paritta, maka dicintai para dewa; karena berucap sopan, kita dihargai orang lain. Dengan berucap baik, kita akan mendapatkan pujian, dihormati, dan dipercaya orang lain.

Perbuatan baik melalui jasmani dapat terjadi jika dilandasi niat yang baik. Perbuatan baik melalui jasmani misalnya mencuci piring sendiri setelah makan, membantu ibu merapikan tempat tidur, mengambil makanan secukupnya dan dihabiskan, membuang sampah pada tempatnya, memberi dana, menolong teman yang terjatuh. Perbuatan baik akan membawa kebahagiaan dan kemuliaan seseorang.

Berdasarkan uraian tentang karma di atas, jelas bahwa kondisi kehidupan seseorang sangat dipengaruhi oleh perbuatan atau karma-nya. Perbuatan baik akan berpengaruh baik pada kehidupan, sedangkan perbuatan buruk akan berpengaruh buruk pula.

Oleh karena itu, perbuatan baik harus dikembangkan. Perbuatan baik sangat bermanfaat untuk membuat masa depan kita bahagia. Ini ibarat tabungan emas atau uang yang kita kumpulkan sehari-hari. Ibarat semut yang rajin mengumpulkan makanan baik di masa sulit maupun di masa banyak makanan. Oleh karena itu, semut tidak pernah kekurangan makanan. Demikian pula hendaknya kita rajin menabung mengumpulkan kebaikan sebanyak-banyaknya, baik di kala susah maupun senang. Tabungan karma baik ini akan sangat menolong di saat kita susah. Karena itu, banyaklah berbuat baik agar masa depan kita menjadi bahagia.

Pengaruh Karma dalam Kehidupan Agama Buddha

Perbuatan yang harus kita hindari adalah perbuatan buruk. Perbuatan buruk akan merusak masa depan kita. Ini ibarat orang yang makan makanan yang enak tetapi tidak sehat. Makanan yang enak dan tidak sehat tidak dapat dirasakan langsung akibatnya. Proses ini akan dirasakan kelak dalam jangka waktu yang lama. Demikian juga perbuatan buruk. Perbuatan buruk yang dilakukan biasanya sangat menyenangkan dan akibatnya pun tidak dirasakan segera. Contohnya adalah malas belajar. Malas belajar umumnya sangat menyenangkan bagi sebagian orang, karena ia merasa terbebas dari beban untuk sesaat. Tetapi akibat buruk dari kemalasan akan dirasakan kelak dikemudian hari. Akibat malas belajar maka dia tidak memiliki pengetahuan atau menjadi bodoh sehingga menghadapi ujian tidak bisa menjawab soa-soal ujian atau ulangan, dan mengakibatkan nilainya jelek/buruk. Demikian seterusnya buah penderitaan akibat malas menjadi berantai dan berkepanjangan. 


Sumber : https://annibuku.com/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baik Hati dan Lemah Lembut Dalam Agama Buddha

Akibat Melanggar Lima Sila Dalam Agama Buddha